Monday, December 26, 2011

Untuk Merubah Nasip ... Usir Rasa Malas & Suka Menunda

Mengusir Rasa Malas dan Suka Menunda-nunda.


Banyak orang diantara kita yang punya “penyakit” suka menunda-nunda pekerjaan. Penyakit ini, yang sebetulnya adalah kebiasaan, seringkali disebabkan karena kita malas mengerjakan sesuatu. Malas bangun pagi dari tempat tidur, malas pergi olahraga secara rutin, malas menyelesaikan tugas-tugas kita sehari-hari.
Ternyata menurut penelitian, kebiasaan malas merupakan penyakit mental yang timbul karena kita takut menghadapi konsekuensi masa depan. Yang dimaksud dengan masa depan ini bukan hanya satu atau dua tahun kedepan tetapi satu atau dua menit dari sekarang.
Contohnya saja ketika Kita malas dari bangun pagi. Kita mungkin berkata dalam hati: “Satu dua menit lagi saya akan bangun”, tetapi kenyataannya barangkali Kita akan berlama-lama di tempat tidur sampai akhirnya memang waktunya tiba untuk siap-siap pergi ke kantor.
Kebiasaan malas timbul karena kita cenderung mengaitkan masa depan dengan persepsi negatif. Kita menunda-nunda pekerjaan karena cenderung membayangkan padatnya jadwal atau setumpuk tugas yang harus dilakukan. Belum lagi berhubungan dengan orang-orang yang kita tidak sukai.
Sayangnya, menunda-nunda pekerjaan pada akhirnya akan mengundang stress karena mau tidak mau satu saat kita harus mengerjakannya. Di waktu yang sama kita juga mungkin punya banyak pekerjaan lain.
Dalam beberapa hal, Kita pun mungkin akan kehilangan momen untuk berkembang ketika kita mengatakan “tidak” terhadap sebuah kesempatan –Kita malas bertindak karena bayangan negatif tentang hal-hal yang memberatkan didepan.

Berikut ini ada beberapa tips untuk mengusir rasa malas dalam diri kita :
-        Ganti “Kapan Selesainya” dengan “Saya Mulai Sekarang”
Apabila Kita dihadapkan pada satu tugas besar atau proyek, Kita sebaiknya JANGAN berpikir mengenai rumitnya tugas tersebut dan membayangkan kapan bisa diselesaikan. Sebaliknya, fokuslah pada pikiran positif dengan membagi tugas besar tersebut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan menyelesaikannya satu demi satu.
Katakan setiap kali Kita bekerja: “Saya mulai sekarang”.
Cara pikir ini akan menghindarkan Kita dari perasaan terbebani, stress, dan kesulitan. Kita membuat sederhana tugas didepan Kita dengan bertindak positif. Fokus Kita hanya pada satu hal pada satu waktu, bukan banyak hal pada saat yang sama.
-        Ganti “Saya Harus” dengan “Saya Ingin”
Berpikir bahwa Kita harus mengerjakan sesuatu secara otomatis akan mengundang perasaan terbebani dan Kita menjadi malas mengerjakannya. Kita akan mencari seribu alasan untuk menghindari tugas tersebut.
Satu tip yang bisa Kita gunakan adalah mengganti “saya harus mengerjakannya” dengan “saya ingin mengerjakannya”. Cara pikir seperti ini akan menghilangkan mental blok dengan menerima bahwa Kita tidak harus melakukan pekerjaan yang Kita tidak mau.
Kita mau mengerjakan tugas karena memang Kita ingin mengerjakannya, bukan karena paksaan pihak lain. Kita selalu punya pilihan dalam kehidupan ini. Tentunya pilihan Kita sebaiknya dibuat dengan sadar dan tidak merugikan orang lain. Intinya adalah tidak ada seorang pun di dunia ini yang memaksa Kita melakukan apa saja yang Kita tidak mau lakukan.
-        Kita Bukan Manusia Sempurna
Berpikir bahwa Kita harus menyelesaikan pekerjaan sesempurna mungkin akan membawa Kita dalam kondisi mental tertekan. Akibatnya Kita mungkin akan malas memulainya. Kita harus bisa menerima bahwa Kita pun bisa berbuat salah dan tidak semua harus sempurna.
Dalam konteks pekerjaan, Kita punya kesempatan untuk melakukan perbaikan berulang kali. Kita selalu bisa negosiasi dengan boss Kita untuk meminta waktu tambahan dengan alasan yang masuk akal. Mulai pekerjaan dari hal yang kecil dan sederhana, kemudian tingkatkan seiring dengan waktu. Berpikir bahwa pekerjaan harus diselesaikan secara sempurna akan membuat Kita memkitang pekerjaan tersebut dari hal yang besar dan rumit.
Kemalasan merupakan sesuatu yang normal dalam hidup Kita. Karena dia normal maka dia pun bisa diatasi. Tiga tips diatas bisa menjadi awal untuk berpikir dan bertindak berbeda dari biasanya sehingga Kita tidak menyia-nyiakan kesempatan yang datang hanya karena malas mengerjakannya.

Saturday, December 24, 2011

Jadi Karyawan atau Pengusaha ya? Agar bisa merubah nasip!.

Dalam hal merubah nasip ini pertanyaan sangat penting untuk dijawab. Aku tidak mau ambil pusing untuk memikirkan ini sekarang tapi sekedar informasi seorang kawan bernama Jimmy Sun, di blognya 
 http://www.jimmysun.net/opini/pengusaha-atau-karyawan
beliau menulis hal ini. Baik aku kutip  dari blog beliau sebagai berikut:

Pengusaha atau Karyawan?

Mana yang lebih baik, kerja ke orang atau usaha sendiri? Nah, berdasarkan pengalaman saya sendiri, coba deh anda tanya sama orang yang kerja ke orang lain (karyawan), kebanyakan mereka pasti akan bilang lebih enak usaha sendiri, dengan alasan menjadi bos untuk diri sendiri, tidak terikat waktu jam kantor, penghasilan lebih besar dan lain sebagainya berbagai keunggulan punya usaha sendiri.
Lalu, coba juga anda tanya sama para pengusaha. Banyak juga lho dari mereka yang bilang lebih enak kerja ke orang, karena tiap bulan sudah pasti dapat gaji, gak pusing ngurusin pegawai dan lain sebagainya keunggulan kerja ke orang.
Nah, menurut saya, apa yang dikatakan para karyawan bahwa lebih enak jadi pengusaha adalah benar, asalkan jadi pengusaha yang sukses yang punya penghasilan besar. Begitu juga dengan apa yang dikatakan para pengusaha bahwa lebih enak jadi karyawan adalah benar, asalkan jadi karyawan dengan kedudukan tinggi, misalnya jadi direktur yang bergaji puluhan juta.
Jadi gimana dong? Mendingan kerja ke orang atau jadi pengusaha? Ah.. kalo saya mah daripada pusing, mendingan jalanin dua-dua nya aja! Kalau di dunia internet, bisnis offline jalan.bisnis online juga jalan.
Tapi kalau usaha sudah maju, jelas lebih baik kembangkan usaha sendiri dan jadi bos untuk diri sendiri.
Pendapat ini sejalan dengan mereka yang pernah saya tanya yang belum saya sebutkan di atas, yaitu para pengusaha yang dulunya kerja ke orang (ya.. ya.. para pengusaha yang saya sebutkan di paragraf ke-2 di atas adalah para pengusaha yang belum pernah jadi karyawan). Setuju kan dengan pendapat ini?

Bagaimana menurut anda?
 

 

Friday, November 19, 2010

Berani Bermimpi


Seorang teman saya menulis di wall saya di Facebook. "Jangan terlalu bermimpi yang tinggi, nanti jadi gila". Demikian katanya. Bila di pikir kata-katanya ada maksud baiknya ada juga negatifnya. Yang pertama adalah apa yang dikatakan dia itu menjadi benar jika Impian yang kita impikan itu tidak kita perjelas dengan target-target yang harus kita capai, atau dengan kata lain tidak kita barengi dengan tindakan. Saya teringat perkataan seseorang bernama Randy Gage disebuah sampul buku berkata sebagai berikut: "Ambilah langkah yang sedikit lebih mendekatkan Anda dengan Impian anda..."  Yang kedua perkataan teman saya tadi menjadi negatif. Artinya secara tidak langsung dia meremehkan saya. Menganggap saya ini tidak bisa, saya ini mana mungkin bisa berubah, mana mungkin sukses dan sebagainya dan sebagainya. Namun apapun maksud teman saya itu saya selalu melihatnya dari segi positif. Tentu saja ini memerlukan kecerdasan emosional yang tinggi sehingga kata-kata tadi  itu menjadi motivasi bagi saya pribadi untuk mengoreksi diri, memeriksa diri apakah saya bisa diandalkan atau sebaliknya. Saya bisa sukses atau tidak. Namun semua itu kembali ke pertanyaan Apa kita mau belajar?. Karena segala sesuatu ada ilmunya, dengan menguasai ilmunya maka kita akan berhasil. Pengetahuan, pengalaman dan keberhasilan ada harganya, hanya bagi yang mau berkomitmen dan konsisten menjalani prosesnya yang akan mendapatkan hasilnya dan tentu saja semua itu dimulai dari Impian.
Impian ternyata berbeda dengan Keinginan. Sekilas keduanya hampir sama. Impian bersifat sangat emosional tumbuh dari  benih cinta, baik mencintai diri sendiri maupun keluarga kita dan orang lain. Dengan menyadari itu ditambah adanya peluang maka akan timbul komitment untuk mewujudkan impian tersebut. Komitmen sendiri adalah antusiasme atau keteguhan hati disertai harapan yang kemudian berkembang menjadi obsesi. Seseorang yang terobsesi dengan impiannya akan sulit untuk dihentikan. Sebab memiliki Energy yang kuat dan tidak mudah surut walau menemui tantangan ataupun kesulitan. Kita akan terus berjuang mencapai impian kita. Walaupun banyak yang mengatakan bahwa itu mustahil, tidak mungkin dan sebagainya. Kalau sudah demikian maka dipastikan kesuksesan tinggal menunggu waktu. Kesuksesan adalah sebuah proses. 
Lalu bagaimana membuat suatu impian? Impian itu harus jelas dan terencana. Contoh jika impian anda adalah sebuah mobil mewah maka anda harus merincinya contoh merek apa mobil itu, warnanya apa, berapa harganya dan kapan bisa dapatkan mobil itu. Impian seperti ini jelas dan dapat di prediksi. Tentunya sesudah kita yakin dengan peluang yang ada pada kita saat ini. 
Semoga apa yang saya bagikan saat ini bisa menolong kita bersama-sama mengapai impian kita masing-masing.

Selamat Bermimpi...!